Kota Islam

Sejarah dan Perkembangan Islam di Kota-Kota Dunia | Sejarah Kerajaan Islam | Sejarah Tokoh-tokoh Penyebar Islam | Sejarah Para Nabi dan Rasul | Sejarah Para Walisongo

Friday, March 7, 2014

Sejarah Kerajaan Islam Perlak - Sumatera

Kota Islam - Kerajaan Islam yang pertama di Indonesia adalah Kerajaan Perlak. Kerajaan Perlak muncul mulai tahun 840 M sampai tahun 1292 M. Kerajaan Perlak adalah sebuah kerajaan Islam awal yang terletak di Perlak, Aceh. Perlak merupakan sebuah daerah di pesisir timur daerah Aceh. Kata Perlak berasal dari nama pohon kayu besar yaitu “Kayei Peureulak” (Kayu Perlak). Kayu ini sangat baik digunakan untuk bahan dasar pembuatan perahu kapal, sehingga banyak dibeli oleh perusahaan-perusahaan perahu kapal. Dan di Perlak banyak tumbuh jenis pepohonan ini, sehingga disebut negeri Perlak.

Raja dan rakyat penduduk daerah negeri Perlak adalah keturunan dari Maharaja Pho He La Syahir Nuwi (Meurah Perlak Syahir Nuwi) dan keturunan dari pasukan-pasukan pengikutnya.

Masa pemerintahan Islam Perlak berlangsung selam 467 tahun dari tahun 225-692 H. Kerajaan Islam Perlak lahir bertepatan dengan masa pemerintahan Al-Muktashim Billah, khalifah Abbasiyah terkahir yang memerintah tahun 218-227 H(833-842 M). Sampai awal abad ke-10 tercatat empat orang raja yang memerintah Kerajaan Islam Perlak, yaitu: Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah (225-249 H /840-864 M),Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Abdurrahim Syah (249-285 H/ 864-888 H), SultanAlaiddin Saiyid Maulana Abbas Syah (285-300 H / 888-913 H), Sultan Alaiddin SaiyidMaulana Ali Mughaiyat Syah (302-305 H/ 915-918 M).

Baca Juga : Sejarah Kerajaan Islam Samudera Pasai

Proses Terbentuknya Kerajaan Islam Perlak

Pada tahun 840 ini, datanglah rombongan berjumlah 100 orang yang dipimpin oleh Nakhoda Khalifah. Tujuan mereka adalah berdagang sekaligus berdakwah menyebarkan agama Islam di Perlak. Pemimpin dan para penduduk Negeri Perlak pun akhirnya meninggalkan agama lama mereka untuk berpindah ke agama Islam. Selanjutnya, salah satu anak buah Nakhoda Khalifah, Ali bin Muhammad bin Ja`far Shadiq dinikahkan dengan Makhdum Tansyuri, adik dari Syahir Nuwi. Dari perkawinan mereka inilah lahir kemudian Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah, Sultan pertama Kerjaan Perlak. Sultan kemudian mengubah ibukota Kerajaan, yang semula bernama Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah, sebagai penghargaan atas Nakhoda Khalifah. Sultan dan istrinya, Putri Meurah Mahdum Khudawi, dimakamkan di Paya Meuligo, Perlak, Aceh Timur

Ajaran Islam yang dipaparkan oleh umat Islam rombongan Nakhoda Khalifah kepada putra-putri Bandar Perlak, dengan taufik dan hidayah Allah Yang Maha Esa, mendapat perhatian dan sambutan yang baik sehingga hidup subur dan berkembang berkat ajaran-ajaran dan penerangan-penerangan dari mubaligh-mubaligh yang terus-menerus datang ke negeri Perlak.

Dalam waktu yang tidak sampai setengah abad, umat Islam Perlak yang telah mempunyai keturunan Islam dari perkawinan campuran antara rakyat/penduduk asli (putri-putri Perlak) dengan keturunan Arab, Persi dan Muslim India, telah sanggup mendirikan Kerajaan Islam di negeri Perlak pada hari Selasa sehari bulan Muharam tahun 225 H (840 M).

Sultan pertama yang terpilih adalah Saiyid Maulana Abdul-Aziz Syah (peranakan Arab Quraisy dengan puteri Meurah Perlak), bergelar Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Abdul-Aziz Syah. Kerajaan Islam yang telah didirikan di Perlak itu, hidup subur dan menjalar luas melalui dinasti raja-rajanya.

Sultan Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah merupakan sultan yang beralirah paham Syiah. Aliran Syi’ah datang ke Indonesia melalui para pedagang dari Gujarat, Arab, dan Persia. Mereka masuk pertama kali melalui Kesultanan Perlak dengan dukungan penuh dari dinasti Fatimiah di Mesir. Ketika dinasti ini runtuh pada tahun 1268, hubungan antara kelompok Syi’ah di pantai Sumatera dengan kelompok Syi’ah di Mesir mulai terputus. Kondisi ini menyebabkan konstelasi politik Mesir berubah haluan. Dinasti Mamaluk memerintahkan pasukan yang dipimpin oleh Syaikh Ismail untuk pergi ke pantai timur Sumatra dengan tujuan utamanya adalah melenyapkan pengikut Syi’ah di Kesultanan Perlak dan Kerajaan Samudera Pasai.
Pada masa pemerintahan sultan ketiga, Sultan Alaiddin Syed Maulana Abbas Shah, aliran Sunni mulai masuk ke Perlak. Setelah wafatnya sultan pada tahun 363 H (913 M), terjadi perang saudara antara kaum Syiah dan Sunni sehingga selama dua tahun berikutnya tak ada sultan. Kaum Syiah memenangkan perang dan pada tahun 302 H (915 M), Sultan Alaiddin Syed Maulana Ali Mughat Shah dari aliran Syiah naik tahta. Pada akhir pemerintahannya terjadi lagi pergolakan antara kaum Syiah dan Sunni yang kali ini dimenangkan oleh kaum Sunni sehingga sultan-sultan berikutnya diambil dari golongan Sunni.

Penobatan Sultan yang keempat tertunda selama tiga tahun karena terjadi pertentangan politik antara aliran Syiah dan Ahlussunnah wal Jama’ah. Para saudagar yang dipimpin Nahkoda Khalifah terdiri atas pemimpin-pemimpin kaum Syiah yang tersingkir oleh penguasa dari dinasti Abbasiyah di Tanah Arab, Persia dan India.
Pertentangan politik antara kedua mazhab ini dalam kerajaan Islam saat itu sampai meluas ke Perlak.

Baca Juga : Sejarah Kerajaan Islam Kesultanan Banten

Akhirnya kelompok Ahlussunnah wal Jama’ah berhasil menumbangkan kerajaan Islam Syiah dan menggantikannya dengan kerajaan Ahlussunnah Perlak. Dinasti Makhdum merupakan kelanjutan dari sultan-sultan dinasti Saiyid Maulana yang berjumlah dua belas orang yaitu:Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir Syah Johan Berdaulat, (306-310 H / 918-922M), Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah Johan Berdaulat (310-334 H /922-946 M), Sultan Makhdum Alaiddin Abdulmalik Syah Johan Berdaulat (334-361 H(946-973 M), Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mansur Syah Johan Berdaulat (402-450 H /1012-1059 M), Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mansur Syah Johan Berdaulat (450-470H /1059-1078 M), Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah Syah Johan Berdaulat (470-501 H (1078-1108 M), Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ahmad Syah Johan Berdaulat(501-527 H /1108-1134 M), Sultan Makhdum Alaiddin Mahmud Syah Johan Berdaulat,(527-552 H /1134-1158 M), Sultan Makhdum Alaiddin Malik Usman Syah JohanBerdaulat, (552-565 H /1158-1170 M), Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad SyahJohan Berdaulat (565-592 H /1170-1196 M), Sultan Makhdum Alaiddin Malik AbduljalilSyah Johan Berdaulat (592-622 H /1196-1225 M) dan Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat (622-662 H/1225-1263 M (namun menurut catatan yang ada di Wikipedia jumlah sultan pada Dinasti Makhdum berjumlah 14)

Pada tahun 362 H (956 M), setelah meninggalnya sultan ketujuh, Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Syah Johan Berdaulat, terjadi lagi pergolakan selama kurang lebih empat tahun antara Syiah dan Sunni yang diakhiri dengan perdamaian dan pembagian kerajaan menjadi dua bagian. Bagian pertama, Perlak Pesisir (Syiah), dipimpin oleh Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah (986 – 988). Bagian kedua, Perlak Pedalaman (Sunni), dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat (986 – 1023).

Kedua kepemimpinan tersebut bersatu kembali ketika salah satu dari pemimpin kedua wilayah tersebut, yaitu Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah meninggal. Ia meninggal ketika Perlak berhasil dikalahkan oleh Kerajaan Sriwijaya. Kondisi perang inilah yang membangkitkan semangat bersatunya kembali kepemimpinan dalam Kesultanan Perlak. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat, yang awalnya hanya menguasai Perlak Pedalaman kemudian ditetapkan sebagai Sultan ke-8 pada Kesultanan Perlak. Ia melanjutkan perjuangan melawan Sriwijaya hingga tahun 1006.

Sultan Perlak ke-17, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat, melakukan politik persahabatan dengan negeri-negeri tetangga. Ia menikahkan dua orang puterinya dengan para pemimpin kerajaan tetangga.  Putri Ratna Kamala dinikahkan dengan Raja Kerajaan Malaka, Sultan Muhammad Syah (Parameswara) dan Putri Ganggang dinikahkan dengan Raja Kerajaan Samudera Pasai, al-Malik al-Saleh.

Perkawinan ini mempunyai arti yang sangat penting dalam penyebaran Islam di Sumatera dan Semenanjung Tanah Melayu. Selain itu, Kerajaan Islam Perlak sebagai kerajaan yang memiliki kebudayaan dan peradaban tinggi bersifat terbuka. Dari hasil perkawinan ini melahirkan seorang putera mahkota pewaris dua kerajaan, yakni Sultan Muhammad Malikul Dhahir. Faktor perkawinan ini menyebabkan lancarnya penyatuan Kerajaan Islam Perlak ke dalam Kerajaan Islam Samudera Pasai.

Kesultanan Perlak berakhir setelah Sultan yang ke-18, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat meninggal pada tahun 1292. Kesultanan Perlak kemudian menyatu dengan Kerajaan Samudera Pasai di bawah kekuasaan sultan Samudera Pasai yang memerintah pada saat itu, Sultan Muhammad Malik Al Zahir yang juga merupakan putera dari al-Malik al-Saleh.

Kerajaan Perlak merupakan negeri yang terkenal sebagai penghasil kayu Perlak, yaitu kayu yang berkualitas bagus untuk kapal. Tak heran kalau para pedagang dari Gujarat, Arab dan India tertarik untuk datang ke sini. Pada awal abad ke-8, Kerajaan Perlak berkembang sebagai bandar niaga yang amat maju. Kondisi ini membuat maraknya perkawinan campuran antara para saudagar muslim dengan penduduk setempat. Efeknya adalah perkembangan Islam yang pesat dan pada akhirnya munculnya Kerajaan Islam Perlak sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia.

Pada hari peresmian berdirinya Kerajaan Islam itu, Bandar Perlak ditukar namanya menjadi Bandar Khalifah sebagai kenang-kenangan kepada Nakhoda Khalifah yang mula-mula membawa agama Islam ke Bandar Perlak. Bandar Khalifah itu sampai sekarang masih tetap disebut namanya, tetapi daerah itu telah menjadi dusun yang kecil yang tidak berarti lagi.

Baca Juga : Sejarah Kerajaan Islam Kesultanan Aceh Darussalam

Dinasti Saiyid Maulana

1. Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Abdul-Aziz Syah, memerintah pada tahun 225-249 H (840-864 M).

2. Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Abdur-Rahim Syah, memerintah pada tahun 249-274 H (864-888 M).

3. Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Abbas Syah, memerintah pada tahun 274-300 H (888-913 M).

4. Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Ali Mughayah Syah, memerintah pada tahun 302-305 H (915-918 M).

Dinasti Makhdum Johan Berdaulat

Raja-raja Dinasti Makhdum Johan Berdaulat adalah turunan dari Meurah Perlak asli (Syahir Nuwi).

5. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul-Kadir Syah Johan Berdaulat, memerintah tahun 306-310 H (918-922 M).

6. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah Johan Berdaulat, memerintah pada tahun 310-334 H (922-946 M).

7. Sultan Makhdum Alaiddin Abdul-Malik Syah Johan Berdaulat, memerintah pada tahun 334-361 H (946-973 M).

8.a Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Mahmud Syah sebagai sultan yang memerintah pada tahun 365-377 H (976-988 M) dari Dinasti Saiyid Maulana. 8.b. Sultan Makdhum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat sebagai sultan yang memerintah pada tahun 365-402 H (976-1012 M) dari dinasti Makhdum Johan Berdaulat.

9. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Syah Johan Berdaulat, memerintah pada tahun 402-450 H (1012-1059 M).

10. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mansur Syah Johan Berdaulat, memerintah pada tahun 450-470 H (1059-1078 M).

11. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah Syah Johan Berdaulat, memerintah pada tahun 470-501 H (1078-1108 M).

12. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ahmad Syah Johan Berdaulat, memerintah pada tahun 501-527 H (1108-1134 M).

13. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Syah II Johan Berdaulat, memerintah pada tahun 527-552 H (1134-1158 M).

14. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Usman Syah Johan Berdaulat, memerintah pada tahun 552-565 H (1158-1170 M).

15. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Syah Johan Berdaulat, memerintah pada tahun 565-592 H (1170-1196 M).

16. Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Jalil Syah Johan Berdaulat, memerintah pada tahun 592-622 H (1196-1225 M).

17. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat, memerintah pada tahun 622-662 H (1225-1263 M).

18. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Syah Johan Berdaulat, yang memerintah pada tahun 662-692 H (1263-1292 M).

Itulah sejarah singkat mengenai salah satu kerajaan islam di Indonesia yang menurut para sejarawan kerajaan inilah kerajaan yang bercorak islam pertama di Indonesia.

Sumber referensi :
http://ms.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Perlak
http://adisuseno.wordpress.com/2010/07/30/kerajaan-perlak-kerajaan-islam-indonesia-yang-pertama/
http://panglima-ali.com/index.php/sejarah-islam/item/260-perlak-kerajaan-islam-awal-di-aceh

Temukan informasi sejarah perkembangan islam, sejarah tokoh-tokoh islam, dan beberapa peninggalan sejarah islam di Kota Islam

Tinggalkan Komentar Anda

Back To Top